Ramadan Penuh Keprihatinan di Tenda Pengungsian Pidie Jaya

Ramadan Penuh Keprihatinan di Tenda Pengungsian Pidie Jaya

definisi RTP game digital

Bulan Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi dijalani dengan penuh keprihatinan oleh ratusan kepala keluarga di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Hampir tiga bulan setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor dahsyat melanda wilayah Sumatra pada akhir November 2025, mereka masih terpaksa bertahan hidup di tenda-tenda darurat yang didirikan di kompleks masjid dan lokasi pengungsian lainnya.

Kehidupan di Tengah Reruntuhan

Kondisi di lokasi pengungsian sangat memprihatinkan. Warga, termasuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, harus menjalani aktivitas sehari-hari di ruang yang sempit dengan sarana pendukung yang sangat minim. Aktivitas ibadah, persiapan berbuka puasa, hingga salat berjamaah terpaksa dilakukan di dalam tenda atau aula serba guna yang jauh dari kata layak untuk hunian jangka panjang.

Seperti yang dialami Rauzah, seorang ibu empat anak yang selamat dari bencana. Ia masih menyelamatkan sisa-sisa barang dari rumahnya yang rusak, termasuk halaman-halaman kotor dari buku yang digunakan anak-anaknya untuk belajar membaca Al-Quran. Barang-barang itu menjadi pengingat pahit akan kehidupan normal yang hilang diterjang banjir.

Hunian Sementara yang Tak Kunjung Rampung

Harapan terbesar warga saat ini adalah percepatan pembangunan Hunian Sementara (Huntara) yang dijanjikan. Mereka berharap dapat segera pindah dari tenda darurat, setidaknya untuk menjalani sisa Ramadan dan merayakan Idul Fitri di tempat yang lebih layak dan aman.

Namun, janji itu hingga kini belum juga terwujud. Proses pembangunan yang berjalan lambat memaksa warga terus menetap di tenda dengan fasilitas seadanya. Pemerintah setempat dikabarkan masih terus mengupayakan penyelesaiannya, tetapi waktu yang terus bergulir menambah beban psikologis para penyintas.

Ketangguhan di Tengah Keterbatasan

Di balik segala kesulitan, semangat untuk tetap menjalankan ibadah Ramadan tak pernah padam. Potret seorang wanita yang khusyuk salat di dalam tenda, atau keluarga yang tetap bersemangat menyiapkan hidangan berbuka dengan sumber daya terbatas, menjadi bukti ketangguhan mereka. Bermain kembang api di sore hari oleh anak-anak di sekitar tenda pun menjadi secercah keceriaan di tengah suasana yang suram.

Duka bencana yang melanda Meurah Dua dan sekitarnya masih terasa jelas. Foto udara menunjukkan betapa parahnya kerusakan di daerah pemukiman. Rumah-rumah hancur, jalanan porak-poranda, meninggalkan lanskap yang memilukan. Ramadan tahun ini menjadi ujian kesabaran sekaligus momentum bagi solidaritas untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan.