EPICTOTO — Di tengah bencana banjir bandang yang melanda Kota Padang, Sumatra Barat, pada Kamis (27/11/2025), muncul kisah heroik seorang ayah bernama Mulyadi. Usahanya menyelamatkan nyawa istri dan tiga anaknya dari amukan air patut diapresiasi, meski di balik keberanian itu ada duka yang dalam: ia harus kehilangan ibu mertuanya yang tinggal bersamanya.
Mulyadi (41), warga Perumahan Abi Koto Panjang, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Kecamatan Koto Tangah, sama sekali tidak menyangka pagi itu akan berubah mencekam. Sekitar pukul 06.30 WIB, saat hujan turun lebat, ia dan keluarganya terbangun karena teriakan warga. Air dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Aia Dingin yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya tiba-tiba meluap deras dan menerjang pemukiman.
“Air naik dan masuk tiba-tiba. Saya terbangun karena orang di luar sudah berteriak-teriak,” kenang Mulyadi saat menceritakan kejadian itu pada Minggu (7/12/2025).
Tanpa pikir panjang, ia langsung bertindak. Di tengah arus yang kian deras, Mulyadi berhasil membawa dua anaknya lebih dulu ke tempat yang lebih tinggi. Tidak hanya itu, ia juga sempat menolong dua anak tetangga yang berjuang keluar dari rumah mereka.
Setelah itu, Mulyadi kembali ke rumahnya untuk menyelamatkan istri, satu anak lainnya, serta ibu mertuanya. Namun, situasi semakin kritis. Saat berusaha keluar, mereka sempat berlindung di balik pagar tembok rumah tetangga, Siska. Sayangnya, tembok itu tidak kuat menahan tekanan air dan akhirnya rubuh, menghanyutkan seluruh anggota keluarga yang masih bersama Mulyadi.
“Arusnya terlalu kencang, temboknya rubuh dan kami semua terseret,” ujarnya.
Dalam kondisi hanyut, Mulyadi berhasil meraih sebuah pohon kecil. Dengan sisa tenaga, ia menarik istri dan tetangganya, Siska. Ia kemudian menyuruh istrinya untuk memanjat pohon ceri terdekat agar aman dari arus.
Tak lama berselang, Mulyadi melihat anaknya yang ikut terseret air. Dengan keberanian luar biasa, ia melepas pegangan dari pohon dan berenang mengejar buah hatinya yang telah hanyut puluhan meter. Anak itu berhasil diraih, dan mereka pun bertahan dengan berpegangan pada sebatang pohon kelapa sekitar 20 meter dari lokasi sang istri.
Mereka bertahan di sana selama beberapa jam sebelum akhirnya dievakuasi oleh warga dan tim penyelamat. Sayangnya, upaya heroik Mulyadi tidak lengkap: ibu mertuanya ditemukan tewas dalam insiden tersebut.
Saat ini, Mulyadi dan keluarganya kehilangan hampir segalanya. Rumah mereka hancur, harta benda lenyap. Hanya pakaian di badan dan sebuah ponsel yang berhasil ia bawa saat menyelamatkan anaknya yang tersisa.
Kisah Mulyadi menjadi pengingat betapa tak terduganya bencana alam, sekaligus bukti bahwa naluri seorang ayah bisa mengalahkan rasa takut demi keselamatan orang yang dicintai.